Selama datang di KPU Banyumas   Click to listen highlighted text! Selama datang di KPU Banyumas
Situs Resmi KPU Banyumas

Kegiatan KGTC KPU Banyumas Berakhir Di Kampus FISIP UNSOED

Purwokerto, kab-banyumas.kpu.go.id – KPU Banyumas goes to campus (KGTC) akhirnya berakhir di kampus FISIP Unsoed, Senin (07/12/2020). KGTC telah dilaksanakan di dua belas kampus yang ada di Kabupaten Banyumas dan diikuti oleh tak kurang dar 1.700 mahasiswa, baik secara daring maupun luring, dari target awal sebanyak 1.000 mahasiswa.

Menurut Yasum Surya Mentari, KGTC merupakan program nasional untuk meningkatkan partisipasi pemilih muda yang berbasis di perguruan tinggi. Dia menambahkan metode hybrid, yakni luring dan daring, dipilih untuk menyesuaikan dengan protokol kesehatan dan kebijakan pembelajaran jarak-jauh yang masih dilaksanakan di kampus-kampus. “Kita putuskan hanya maksimal 20 mahasiswa saja yang dapat mengikuti tatap-muka langsung di kampus. Selebihnya melalui daring,” ujar anggota yang membidangi divisi Parmas dan SDM ini saat ditanya tentang kebijakan pelaksanaan KGTC oleh KPU Banyumas.

Meski pelaksanaan KGTC masih dalam suasana keterbatasan, lanjut Yasum Surya, semua kampus yang terlibat mendukung penuh kegiatan ini. Bahkan, ada beberapa kampus yang mewajibkan mahasiswanya untuk ikut serta. “Kami berterima kasih kepada 12 kampus yang telah bekerja sama dengan kami dan kami harapkan kerjasama ini terus berlanjut,” katanya ditemui seusai dirinya menjadi moderator KGTC terakhir di kampus FISIP Unsoed.

Mahasiswa dan Kredo Suci
Sementara itu, Tri Wuryaningsih yang menjadi salah satu narasumber KGTC di Kampus Fisip Unsoed ini mengatakan bahwa masyarakat Indonesia menaruh banyak harapan kepada mahasiswa. Menurut perempuan yang juga Wakil Dekan III Fisip Unsoed ini, ada banyak tuntutan dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa. Tanggung jawab itu merupakan kredo suci yang terlekat pada identitas mahasiswa. “Mahasiswa diharapkan menjadi agent of change. Dengan nalar kritisnya, dengan kemampuan intelektualnya mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan,” katanya di depan mahasiswa yang hadir di aula FISIP Unsoed ini.

Perempuan yang kerap disapa Triwur ini mencontohkan peran yang dapat dilakukan oleh mahasiswa diantaranya dengan mengajak masyarakat untuk menolak politik uang yang kerap hadir saat momen Pemilu atau Pemilihan.

“Mahasiswa juga harus menjadi moral force, menjadi penyambung lidah rakyat yang bangkit di kala hadirnya momentum ketidakadilan dan kesewenangan penguasa,” sambung doktor lulusan UGM ini.

Pada kesempatan itu, Hanan Wiyoko yang juga menjadi narasumber menyatakan mahasiswa harus berperan aktif dalam kepemiluan. Menurutnya, hal itu dapat dilakukan dengan cara menjadi penyelenggara, pengawas atau pemantau Pemilu.

Hanan juga berpesan kepada seluruh peserta yang hadir, agar memperbanyak pengalaman berorganisasi. “Insya Alloh dengan berorganisasi akan mendatangkan manfaat di kemudian hari,” kata anggota yang membidangi divisi Teknis ini. (SPA)

Ubah Ukuran Font
Ubah Kontras
Click to listen highlighted text!