Selama datang di KPU Banyumas   Click to listen highlighted text! Selama datang di KPU Banyumas
Situs Resmi KPU Banyumas

KPU RI BEKALI KESIAPAN DIVISI TEKNIS PENYELENGGARAAN

JAKARTA – Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia, Ilham Saputra menekankan agar Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota bekerja dengan fokus dan memperhatikan detil demi kelancaran pemungutan suara, penghitungan dan rekapitulasi suara dalam Pemilu 2019.

Salah satu poin penekanannya adalah kesuksesan pemungutan dan penghitungan suara di ujung tombak yakni di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Menurutnya, petugas di TPS atau yang disebut Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) harus ‘fresh‘, memahami aturan, berintegritas serta siap kerja keras.

Demikian disampaikan Ilham Saputra saat menjadi pembicara di depan ribuan peserta Rapat Koordinasi Nasional yang diikuti Divisi Teknis Penyelenggaraan dari KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota se-Indonesia, Jumat (16/11) malam di Jakarta.

“Divisi Teknis adalah jantungnya dari penyelenggaraan pemilu,” kata Ilham.

Kemudian dia menganalogikan, bidang Parmas sebagai ujung tombak untuk menjangkau dan mengedukasi pemilih cerdas sedangkan Divisi Hukum seolah seperti selimut atau tameng yang melingkupi di semua tahapan.

Kepada peserta ia menyampaikan beberapa materi antara lain terkait pasca penetapan Daftar Calon Tetap (DCT) bilamana ada peristiwa yang mengubah DCT dan hal-hal yang tidak dapat mengubah DCT.

Kemudian Ilham memberikan catatan kritis terkait pra tahapan pemungtan dan penghitungan suara di TPS. Antara lain tentang pentingnya netralitas badan adhoc yakni PPK, PPS, dan KPPS. Juga soal masih adanya pemilih yang tidak terdaftar DPT dan pentingnya lokasi TPS mudah dijangkau.

Identifikasi masalah kemudian dipaparkan tentang 12 persoalan saat hari H pemungutan suara. Antara lain mulai dari kekurangan surat suara, KPPS belum memahami regulasi tungsura, KPPS bekerja tidak sesuai prosedur, hingga kondisi kesehatan KPPS saat melakukan tungsura. Ilham juga memberikan penekanan agar tidak terjadi Pemungutan Suara Ulang (PSU).

“KPPS harus paham cara mengisi formulir. Ini perlu dilakukan Bimtek yang bukan teori saja, harus praktik. Termasuk harus paham, formulir apa yang ada di dalam dan di luar kotak suara,” kata Ilham.

Di sesi tanya jawab, Ilham menampung masukan dari para penanya soal harapan adanya penganggaran untuk kegiatan Bimtek bagi KPPS lebih dari dua kali. Saat tanya jawab, juga muncul ide supaya mempermudah proses penulisan salinan lembar penghitungan suara dengan menggunakan penjiplakan karbon atau fotokopi. Namun hal tersebut dirasa sulit diberlakukan mengingat perbedaan geografis dan ketersediaan fasilitas di TPS.

Permasalahan lain yang mengemuka saat sesi tanya jawab antaralain soal usulan para peserta agar KPU RI membuat video simulasi tatacara tungsura, pengaturan TPS khusus di Lapas dan rumah sakit, serta kerumitan daftar pemilih tambahan yang harus tersedia 30 hari sebelum hari pemungutan suara yang akan diadakan 17 April 2019.

Di akhir acara, Ilham mengajak para peserta untuk berfoto bersama sekaligus membuat video rekaman meneriakkan yel ‘Jantungnya Pemilu’. (hwo)

Ubah Ukuran Font
Ubah Kontras
Click to listen highlighted text!