Selama datang di KPU Banyumas   Click to listen highlighted text! Selama datang di KPU Banyumas
Situs Resmi KPU Banyumas

MENGENAL FORMULA KONVERSI SUARA KE KURSI SAINTE-LAGUE

Setelah hasil rekapitulasi ditetapkan, bagaimana menentukan jumlah kursi yang didapat setiap Parpol? Inilah pentingnya kita memahami sistem pemilu yang dianut oleh suatu negara. Sistem pemilu menentukan mekanisme bagaimana suara peserta pemilu diubah menjadi kursi. Pada umumnya mekanisme itu terlebih dahulu ditentukan di dalam undang-undang atau regulasi lain sesuai dengan sistem hukum yang dianut negara itu.

Sistem pemilu perwakilan berimbang, seperti yang dianut oleh Indonesia, merupakan salah satu jenis dari sistem pemilu di dunia. Sistem ini menghendaki sedapat mungkin kursi yang diperoleh oleh parpol sesuai dengan jumlah suara yang didapat. Maka, diperlukan formula matematis untuk menghitung berapa jumlah suara agar dapat diubah menjadi kursi seproporsional mungkin.

Di dunia dikenal ada dua metode, yakni metode kuota atau sisa suara terbanyak dan metode divisor atau pembagi tetap. Sesuai namanya, metode kuota diawali dengan mencari kuota terlebih dahulu, yakni ambang batas suatu partai memperoleh kursi. Bilangan kuota diperoleh dengan membagi suara sah seluruh parpol di suatu dapil dengan alokasi kursi di dapil itu atau di Indonesia dikenal dengan Bilangan pembagi Pemilih (BPP). Teknis menghitungnya, masing-masing suara sah parpol dibagi BPP. Maka menghasilnya bilangan kursi yang di dapat oleh masing-masing parpol. Apabila kursi belum terbagi habis, dicari sisa suara terbesar.

Sedangkan kalau metode divisor memiliki ciri bilangan pembaginya tetap, yakni dengan bilangan tertentu. Artinya, setiap suara yang diperoleh lalu dibagi dengan bilangan yang sudah ditentukan sebelumnya. Berbeda dengan kuota yang bilangan pembaginya dapat berubah-ubah, metode ini sudah dipastikan bilangan pembaginya. Teknisnya, setelah dibagi dengan bilangan tetap lalu hasilnya dicari yang tertinggi sesuai urutan, sampai kursi terbagi habis.

Metode konversi menurut UU No.7/2017

Pada Pemilu 2019, untuk pertama kalinya metode divisor digunakan. Disebutkan pada pasal 420 huruf b UU Nomor 7 tahun 2017, setelah didapat suara sah setiap parpol kemudian dibagi dengan bilangan 1, 3, 5, 7, 9 dan seterusnya. Formula pembagi tetap ini secara luas dikenal dengan metode divisor varian Sainte-Lague Murni.

Formula ini diperkenalkan oleh matematikawan asal Perancis Andre Sainte-Lague (1882-1950) pada 1910. Intinya, setelah semua suara sah dibagi dengan bilangan-bilangan itu, hasilnya diperingkat sesuai jumlah alokasi kursi di suatu dapil. Khusus untuk tingkat DPR RI, parpol yang akumulasi suara sah nasional di bawah 4%, maka tidak diikutkan pada penghitungan kursi. Tetapi untuk tingkat DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh partai tetap dihitung pada penghitungan suara.

Nah, bagaimana teknis menghitunganya? Kita akan lihat contoh berikut.

Kita mendapatkan perolehan hasil Pemilu di suatu dapil seperti tabel di atas. Dapil itu terdiri dari 5 parpol dengan alokasi 6 kursi. Seluruh hasil suara sah setiap parpol di atas merupakan hasil akumulasi dari seluruh suara calon (pemilih yang mencobolos calon) dan suara parpol (pemilih yang hanya mencoblos parpol). Selanjutnya, suara parpol dari setiap dapil itu dibagi dengan bilangan 1, 3, 5, dan 7. (Pada umumnya untuk alokasi kursi kecil pembaginya cukup sampai dengan angka 7). Hasil bagi seluruh parpol terlihat pada tabel di bawah ini:

Selanjutnya angka-angka dari hasil bagi itu diurutkan berdasarkan peringkat tertinggi. Dikarenakan alokasi kursi di dapil itu hanya 6, maka hanya 6 angka tertinggi saja yang akan diambil.

 

Pada tabel di atas nampak hasil peringkat enam besar, Partai Apel memperoleh kursi pertama (15.000 suara). Kursi kedua diraih oleh Partai Jambu (12.000 suara). Lalu, kursi ketiga diperoleh oleh Partai Durian (9.500 suara). Partai Apel memeroleh kursi lagi untuk kursi keempat (5.000 suara). Hal yang sama juga diperoleh oleh Partai Jambu yang memperoleh kursi kedua (4.000 suara) pada urutan kursi kelima. Dan akhirnya Partai Mangga mendapatkan kursi keenam dengan 3.500 suara.

Jika sudah demikian, maka kita dapat menentukan caleg mana yang akan terpilih. Ketentuannya, ketika suatu parpol telah pasti mendapatkan kursi maka tinggal menghitung perolehan kursi masing-masing calon. Calon yang memeroleh suara terbanyak pertama, kedua dan seterusnya yang akan mendapatkan kursi, tergantung berapa jumlah kursi yang diperoleh parpol itu. Dengan begitu, perolehan suara masing-masing caleg baru bermakna ketika sudah dipastikan perolehan kursi yang diperoleh. Sebab, pada tahap penghitungan kursi perolehan suara masing-masing caleg melebur menjadi perolehan suara sah parpol. (Subhan Purno Aji)

Ubah Ukuran Font
Ubah Kontras
Click to listen highlighted text!