Selama datang di KPU Banyumas   Click to listen highlighted text! Selama datang di KPU Banyumas
Situs Resmi KPU Banyumas

SITUNG DAN TRANSPARANSI PEMILU 2019

Terhitung sejak Pemilu 2014, KPU mulai mengenalkan dan menggunakan Situng (Sistem Informasi Penghitungan Suara) pada tahapan pemungutan dan penghitungan serta rekapitulasi penghitungan suara. Fungsi Situng pada dasarnya untuk menjawab kebutuhan dasar, yakni akses pada data primer: hasil penghitungan suara di seluruh TPS.

Hasil penghitungan suara di TPS merupakan data dasar (base) yang sangat menentukan hasil Pemilu. Tidak hanya peserta Pemilu dan pengawas, masyarakat dan kelompok kepentingan lainnya sangat berkepentingan untuk dapat diberikan akses hasil di setiap TPS. Inilah yang menjadi titik-tolak KPU berpikir untuk memanfaatkan teknologi informasi agar, tidak hanya peserta Pemilu dan pengawas saja, masyarakat juga dapat mengawal suara mereka sampai dengan ditetapkannya calon terpilih.

Situng, Sebuah Inovasi

Mengutip buku Inovasi Pemilu Mengatasi Tantangan, Memanfaatkan Peluang (KPU, 2017), aplikasi Situng mulai dicetuskan sejak November 2013 saat periode KPU 2012-2017. Tujuannya sederhana, yakni mendigitalisasi hasil pemungutan suara di TPS (Formulir C1) dan rekapitulasi di seluruh tingkatan (Formulir DAA1, DA1, DB1, DC1 dan DD1). Saat itu, cara yang ditempuh adalah memanfaatkan teknologi informasi. Selanjutnya KPU mulai melangkah dengan meminta pendapat dari pihak-pihak yang selama ini menggeluti teknologi informasi, seperti BPPT, Pusilkom UI dan Prakarsa KPU. Akhirnya dengan mempertimbangkan ketersediaan waktu, kesiapan SDM dan perangkat KPU di daerah dipilihlah Situng yang berbasis aplikasi offline (lokal), scanner (pemindai) dan aplikasi excel.

Desain Situng berbeda dari sistem tabulasi dan penghitungan cepat sebelumnya. Situng tidak ditujukan sebagai sistem tabulasi secara nasional yang pernah dilakukan KPU pada 2009. Situng tidak menggunakan sistem ICR (Intellegent Charracter Recognition) yakni sistem yang secara otomatis mengkonversi hasil tulisan manual penghitungan dan rekap suara menjadi angka digital. Hal ini dikarenakan kegagalan tabulasi nasional pada Pemilu 2009 justru terletak pada sistem ICR itu sendiri. Maka, belajar dari pengalaman itu KPU akhirnya memutuskan untuk memindai dan menampilkan secara langsung hasil di TPS secara apa adanya.

Alhasil, upaya KPU untuk menampilkan hasil pindai formulir di TPS dan hasil rekap berjenjang menuai apresiasi dari publik. Bahkan inovasi berhasil mendorong partisipasi publik untuk mengawal hasil Pemilu.

Hanya Alat Bantu

Ramai-ramai pemberitaan tentang Situng di dunia maya atau nyata di satu baik untuk diskusi publik tentang inovasi Pemilu sekaligus sebagai pembelajaran berdemokrasi. Tetapi, sebagian seolah menyudutkan bahwa Situng hanya menguntungkan salah satu pihak dan merugikan lainnya. Apalagi berita bohong itu dibumbui dengan meme  yang sama sekali berbeda dari fakta yang ada.

Pada audiensi antara tim relawan Prabowo-Sandi dengan KPU Banyumas, Imam Arif menegaskan bahwa kekhawatiran tim relawan bahwa Situng hanya menguntungkan pasangan tertentu tidak berdasar. Bahwa ada kekeliruan input C1 oleh operator betul diakui tetapi itu bukan kesengajaan. Lagi pula, lanjut Imam, hasil Situng yang saat ini bisa diakses bukan hasil final.

“Yang saat ini dapat dilihat oleh bapak ibu bukan hasil final. Hasil resmi tetap hasil yang rekap berjenjang yang dihadiri oleh para saksi”, tegas Imam.

Imam menuturkan kekeliruan input C1 ke dalam Situng sangat mungkin terjadi, baik karena operator keliru dalam memasukkan angka ataupun kekeliruan dari C1 yang ditulis oleh KPPS. Imam memastikan bila di Banyumas ada kekeliruan dalam input data masyarakat untuk segera melaporkan.

“Silakan kalau ada data C1 yang keliru input lapor ke KPU. DI TPS berapa desa apa kecamatannya mana. Pasti kami tindaklanjuti”, ujar Imam ditemui sesaat setelah audiensi tim relawan.

Kasworo, Kasubbag Teknis KPU Banyumas, yang bertanggung jawab langsung dalam proses input C1 juga sudah mewanti-wanti kepada para operator untuk lebih teliti dalam memasukkan angka di dalam C1. Pasalnya, keliru input akan menyebabkan masyarakat resah. Ia juga sudah memerintahkan para verifikator untuk mengecek kembali sebelum data hasil inputan dipublikasi. “Prosesnya sebelum data hasil input dipublikasi diverifikasi dulu. Jadi kami juga sudah tekankan verifikator untuk lebih teliti lagi”, ujarnya di sela-sela kegiatan rekapitulasi di KPU Provinsi Selasa (07-5-2019).

Pengelolaan Situng di Kabupaten/Kota

Pengelolaan Situng Pemilu 2019 lebih baik daripada Situng Pilkada 2018 yang lalu. Situng Pemilu 2019 untuk tingkat kabupaten/kota terdiri dari dari beberapa peran. Peran-peran itu terkait dengan mekanisme kerja yang dijalankan di masing-masing Satker. Peran pertama ada koordinator Situng. Peran ini dijalankan oleh staf di sekretariat yang bertugas untuk membuat pengguna yang lain. Peran kedua adalah operator. Peran ini difasilitasi dengan adanya Situng Desktop yang memiliki menu pindai C dan C1 serta input data. Hanya mereka yang telah didaftarkan sebagai operator yang dapat mengakses Situng Desktop. Situng Desktop bersifat offline, namun jika akan mengirim data harus tersambung ke jaringan internat.

Peran ketiga adalah verifikator. Peran ini menuntut ketelitian, karena tugasnya meneliti tugas yang dilakukan oleh para operator. Seorang verifikator harus jeli mencocokan data C1 yang telah dipindai dan hasil entri yang dimasukkan ke dalam Situng. Jika terdapat perbedaan, verifikator tidak dapat mempublikasikan hasilnya ke publik dan meminta operator untuk memperbaiki lagi. Singkatnya, verifikator merupakan quality control dari sistem Situng untuk data C1.

Peran ketiga adalah komisioner sebagai user pengolahan seluruh data Situng. Peran vital komisioner adalah memverifikasi data hasi rekapitulasi di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota. Formulir DAA1 dan DA1 serta DB1 yang telah diunggah ke Situng melalui Situng Desktop tidak langsung bisa dipublikasikan, tetapi diverifikasi terlebih dahulu oleh komisioner. Setelah diverifikasi, baru dapat ditampilkan di kanal www.infopemilu2019.kpu.go.id yang dikelola oleh KPU RI.

Kendala di Lapangan

Pelaksanaan unggah dan input data melalui Situng di KPU Kabupaten Banyumas dapat diselesaikan sampai 100%. Menurut Hanan Wiyoko, anggota KPU Banyumas yang membawahi divisi Teknis, pihaknya sesuai instruksi KPU RI untuk menuntaskan seluruh input dan unggah data C1, DAA1, DA1 dan DB1. Menurut Hanan, kendala utama adalah banyaknya data yang harus diinput sementara kemampuan para operator dan verifikator hanya diberikan alokasi waktu selama sebulan.

“Kontrak kerja para operator hanya sebulan. Itupun mereka sebulan full. Jadi setelah April sampai dengan Mei dan Juni penyelesain Situng dilakukan oleh orang KPU sendiri”, ujar alumni jurusan Ilmu Politik Unsoed ini.

Hanan menambahkan bila dibandingkan dengan kabupaten lain, Banyumas termasuk kabupaten yang cukup dini menyelesaikan seluruh unggah dan input data. Apalagi dengan banyaknya TPS yang diampu, lanjut Hanan, KPU Banyumas sudah all out menuntaskan Situng.

“Ini (penyelesaian Situng) tidak saja bentuk transparansi data hasil Pemilu, tetapi juga akuntabilitas lembaga KPU kepada publik”, kata Hanan.

Dia berharap ke depan apa yang sudah baik dari Situng untuk tetap dilanjutkan dan diprogramkan oleh KPU RI, baik untuk Pemilu maupun Pilkada. Hal yang sudah baik diantaranya soal keamanan, akses data dan anggaran. Tetapi yang KPU RI perlu untuk memperbaiki manajemen sumber daya agar baik SDM, hardware maupun software Situng agar dapat optimal digunakan. (SPA)

Ubah Ukuran Font
Ubah Kontras
Click to listen highlighted text!