Selama datang di KPU Banyumas   Click to listen highlighted text! Selama datang di KPU Banyumas
Situs Resmi KPU Banyumas

Urgensi Pendidikan Politik Bagi Perempuan

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dan Aktivis Perempuan Tri Wuryaningsih Narasumber Webinar dan Diskusi Virtual Tema “Pendidikan Politik dan Peran Perempuan Di Masa Pandemi Covid19, Rabu (12/08/2020)

Purwokerto, kab-banyumas.kpu.go.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) memiliki peran yang sangat penting untuk mengajak perempuan lebih berperan dalam ruang publik khususnya dunia politik. Hal ini mengemuka dalam Webinar dan Diskusi Virtual KPU Kabupaten Banyumas dengan tema “Pendidikan Politik dan Peran Perempuan di Masa Pandemi Covid19”, Rabu (12/08/2020).

Ketua KPU Kabupaten Banyumas Imam Arif S dalam sambutannya, menegaskan kembali urgensi pendidikan politik bagi perempuan dan penyadaran publik tentang pentingnya isu-isu perempuan, terlebih di masa pandemi COVID-19.

Ketua KPU Kabupaten Banyumas, Imam Arif S sebagai Keynote Speech Webinar dan Diskusi Virtual.

Meski tidak sedang menyelenggarakan Pilkada 2020, KPU Banyumas terus berupaya melaksanakan tugas pokok meski dengan berbagai keterbatasan di masa pandemi Covid-19 ini. “KPU Banyumas mengadakan webinar dengan berbagai tema dan audience yang berbeda, ini semata-mata ikhtiar dari KPU Banyumas untuk tetap produktif di tengah pandemi,” jelas Imam.

Menyasar perempuan, webinar kali ini menghadirkan dua narasumber tokoh perempuan yakni Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Republik (MPR) RI Lestari Moerdijat, S.S., M.M. dan Aktivis Perempuan sekaligus Wakil Dekan III FISIP UNSOED Purwokerto Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si.

Diharapkan dengan adanya diskusi publik bersama tokoh perempuan ini, para perempuan lebih termotivasi untuk berperan aktif dalam politik, meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya isu-isu yang terkait dengan perempuan serta keberpihakan dari pihak-pihak yang concern dan berkepentingan.

Pentingnya Peran Aktif Perempuan

“Harus menjadi pemahaman bagi kita semua bahwa partisipasi perempuan dalam politik khususnya dalam pengambilan keputusan politik itu sangat diperlukan. Kita tidak hanya bicara tentang kepentingan perempuan tetapi perspektif gender di dalam semua pengambilan keputusan,” ujar Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie ini.

Kader partai NasDem yang berkampung halaman di Purwokerto ini juga menyoroti rendahnya perwakilan perempuan dalam parlemen. Selain karena supply yang sedikit, hal ini juga disebabkan oleh sikap dan perilaku pemilih kita yang masih diskrimintatif terhadap perempuan.

“Diharapkan niat baik (Goodwill) dari partai politik dengan memberi peluang para kader perempuan aktif untuk memenuhi kuota 30% juga dibarengi dengan affirmative action dari partai politik untuk penguatan kader perempuannya dengan pendidikan politik dan membuka ruang-ruang ekspresi selebar mungkin,” ujar Koordinator Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah MPR RI ini.

Pengetahuan dan pengalaman kepada peserta juga disampaikan oleh narasumber kedua Tri Wuryaningsih. Ketua Pusat Penelitian Wanita, Gender dan Anak LPPM UNSOED dan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT PKBGA) Kabupaten Banyumas ini menyoroti kontruksi gender yang sudah terinternalisasi pada masyarakat.

“Selama ini jika kita bicara dunia politik maka sudah hampir dipastikan bahwa yang dimaksud adalah dunia publik yang penghuninya mayoritas adalah laki-laki. Sehingga yang terjadi adalah diskriminasi atau peminggiran politik terhadap perempuan di dalam kehidupan demokrasi atau dunia politik,” ujar Dosen Sosiologi yang pernah menjabat sebagai Ketua Panwaskab Banyumas Tahun 2008-2009 ini.

Rendahnya partisipasi politik perempuan, baik sebagai pemilih, penyelenggara maupun sebagai kontestan antara lain disebabkan oleh image politik yang kotor penuh intrik, dianggap oleh kontruksi gender, berlawanan dengan citra perempuan. Beberapa nilai atau tradisi di masyarakat, kondisi sosial, ekonomi, politik, dan tafsir keagamaan serta kondisi diri perempuan itu sendiri juga menjadi penghambat rendahnya kiprah perempuan di bidang politik.

Tri Wur juga mengajak para perempuan agar banyak berkiprah di dunia publik, termasuk dunia politik dan duduk di posisi pengambilan keputusan, agar aspirasi dan kepentingan perempuan dapat disalurkan.

Acara yang dimoderatori oleh Komisioner KPU Banyumas Divisi Teknis Penyelenggaraan Hanan Wiyoko ini diikuti dengan antusias yang tinggi dari 88 peserta dan disiarkan pula secara live streaming melalui Youtube KPU Banyumas. (sks)

Ubah Ukuran Font
Ubah Kontras
Click to listen highlighted text!