Purwokerto —Film The Campaign diproduksi pada tahun 2012 menggambarkan pemilihan Anggota Kongres, Carolina Utara, Amerika Serikat yang dikemas dalam genre komedi. Film ini mengisahkan kampanye petahana melawan pendatang baru yang didanai miliarder/pengusaha, dalam kampanyenya, kedua calon ini terlibat celaan, ejekan dan berubah perlawanan fisik. Demikian sinopsis singkat dari Film The Campaign yang menjadi tema kegiatan rutin “Kamis Sesuatu” yang diselenggarakan oleh kedivisian Hukum dan Pengawasan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Tengah secara daring, Kamis (16/04/2026).
Basmar Perianto Amron, Divisi Perencanaan dan Logistik KPU Provinsi Jawa Tengah menyampaikan, film ini merefleksikan kegiatan kampanye yang perlu KPU pelajari sejauh mana kampanye terlaksana dan dilaksanakan. Efek kampanye tentu tidak hanya seputar kandidat, tetapi juga dapat mempengaruhi pemilih. Oleh sebab itu, film ini dapat menjadi salah satu referensi dan refleksi pelaksanaaan kampanye diperbolehkan atau dilarang.
Pelajaran dari The Campaign
Cam Brady, seorang petahana anggota kongres, melawan Marty Huggins, seorang yang kurang populer, dicalonkan dengan dukungan miliarder dan menggunakan jasa konsultan politik untuk meningkatkan strategi dan citra publik. Dalam kampanyenya, terungkap skandal-skandal yang dilakukan Brady sehingga membuat popularitasnya menurun. Sementara itu, popularitas Marty terus meningkat berkat strategi kotor dari tim kampanye dan dukungan pengusaha.
Plot twist-nya, sebelum hari pemilihan, Marty mengetahui rencana pengusaha untuk memanfaatkan dirinya sebagai pion untuk menguntungkan bisnis sendiri dan merugikan lapangan pekerjaan bagi warga lokal. Oleh karena itu, Marty apatis dengan pemilihan dan terbukti Brady memenangkan perolehan suara. Akan tetapi, sikap sportivitas Marty dan caranya menunjukkan rencana kotor pengusaha itu, menyadarkan Cam bahwa ia telah menyimpang dari tujuan seorang politikus. Cam mengundurkan diri dari pemilihan yang secara otomatis Marty menjadi pemenang.
Film ini menyajikan satire -kampanye- politik yang dikemas dalam genre komedi yang menunjukkan bahwa kampanye kotor atau yang lazim dilakukan merupakan tindakan konyol dan melenceng dari tujuan demokrasi. Lelucon kampanye dapat menyadarkan penonton bahwa demokrasi bukan cara memperoleh kekuasaan dengan menjatuhkan lawan politik. Begitu pula kampanye bukanlah cara memperoleh simpati dengan menurunkan harkat dan martabat pribadi atau golongan.
Film ini tidak hanya sebagai media hiburan akan tetapi juga dapat sebagai pesan kepada pemilih agar tetap memiliki integritas dalam menentukan pilihan. Selain itu, track record dan penyaringan terhadap program kandidat perlu didalami oleh pemilih. Memang terkesan rumit, akan tetapi dalam masa sekarang, rekam media sosial dan debat serta kampanye yang disediakan dapat menambah pengetahuan bagi pemilih.
Satire Kampanye Politik
Kampanye seringkali ditunjukkan dengan sikap simpati, empati, peduli, imitasi dan sugesti. Tidak hanya pada pihak kandidat, tetapi juga sampai pada pemilih. Sikap tersebut masuk melalui media, baik cetak maupun elektronik dan media sosial. Seringkali pihak kandidat melakukan kepedulian berlebih terhadap penderitaan atau kegundahan masyarakat.
Sikap simpati dan empati seringkali berhasil untuk merebut perhatian pemilih yang kemudian pemilih merasa simpati bahkan beberapa kejadian hingga menyentuh level sugesti, seperti anggota keluarga bertengkar karena beda pilihan kandidat. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ironi dalam pilihan masyarakat. Mestinya pilihan politik tidak diikut campurkan menjadi persoalan keluarga.
Dalam menjaga dan menambah informasi pemilih, KPU telah menyediakan ruang-ruang untuk membantu kandidat dan pemilih untuk menentukan strateginya. KPU memfasilitasi kampanye dalam bentuk penyebaran alat peraga kampanye dan debat pubik. Dari hal tersebut, konstituen dapat menambah informasi tentang kandidat. Debat publik misalnya, konstituen dapat menikmati berbagai macam ide yang ditawarkan dan dapat pula memahami pro-kontranya. Oleh karena itu, dalam memahami kandidatnya, konstituen tidak melulu menimbang dari media sosial kandidat, tetapi juga debat publik sebagai bahan salah satu ujian terhadap kapasitas kandidat untuk mengatasi persoalan di masyarakat.
Selengkapnya